Selasa, 27 Oktober 2009

Evolusi AHMAD DHANI

EVOLUSI AHMAD DHANI



Oleh Adib Hidayat

Evolusi salah satu peletak dasar musik pop Indonesia era 90’an yang berubah menjadi pengusaha rekaman yang merilis banyak album berselera industri dibawah bendera Republik Cinta.

Di mobil sewaan dari hotel yang membawa Baron, Andra Ramadhan, Tepi Item, Dedi Lisan dan Kruso (manajer di Andra & The Backbone) saya mengirim pesan pendek ke Faiz M. Bahwa saya akan ikut rombongan ini mampir ke rumahnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 23.00. Tadinya sore harinya saya hendak bareng rombongan Gigi ke rumah Faiz M. Namun Gigi ternyata sudah terlebih dahulu sore harinya mampir kesana. Saya urung ikut. “Nanti malam saja bareng anak-anak Andra & Backbone, mereka pada mau kesana abis show.” kata Armand Maulana, vokalis Gigi lewat pesan pendek ke nomor saya.

Saat itu di Malang sedang digelar acara final Marlboro Rock Your Style. Ajang mencari orang yang bisa merepresentasikan sebuah attitude rock lengkap dengan atribut dan pandangan mereka soal musik rock. Hadiah tidak tanggung-tanggung, nonton Fuji Rock Festival di Jepang bulan Juli 2009 dengan headliner Oasis, Weezer, The Killer, Franz Ferdinand, dan Patty Smith dan banyak lagi. Saat malam final di Malang ditampilkan band-band terkemuka seperti Gigi, /rif, Andra & the Backbone, The Rock, Melanie Soebono, Burgerkill dan band pembuka Bionic serta Dadakoe. Bionic adalah unit rock yang memadukan unsur musik elektronik seperti yang diusung oleh Koil. Sang vokalis adalah anak dari Ratu Atut, gubernur Banten. Sementara Dadakoe adalah band baru dari Damon dan David Koeswoyo. Damon sebelumnya dikenal lewat band Kidnap bareng Anang dan Massto (adik Bimbim Slank). Kebetulan saya diminta menjadi juri acara tersebut bersama Andy /rif dan Melanie Soebono.

Akhirnya saya bisa juga mampir di rumah yang penuh menyimpan misteri dan menyerupai mitos tersebut di JL. Mergosono di kota Malang. Rumah dari Faiz M. Sosok yang menjadi rujukan atau imam untuk Ahmad Dhani. Bahkan menjadi rujukan dari hampir semua nama musisi yang beredar di industri atau diluar poros industri musik Indonesia. Dari musisi era God Bless, Chrisye, sampai generasi Dewa19, Slank, Gigi, Ari Lasso, Padi, Nidji, The Titans, Andra & The Backbone dan The Rock. Tak hanya dari kalangan musisi dan artis. Beberapa nama yang ada di jajaran birokrat, politisi, atau pengusaha kelas atas pernah mampir ke rumahnya dan bertemu dengannya. Rasanya tak lengkap jika mampir ke Malang namun tidak bertemu Faiz M. Slank pernah membawa rombongan sampai 150 orang ke rumah Faiz. M. ”Itu rekor tamu saya sampai saat ini dari sebuah band.”

______________

Saat tiba di rumah Faiz.M yang langsung terasa adalah seperti berada di sebuah museum dengan cita rasa yang luar biasa. Memadukan unsur budaya, musik, dan filsafat dalam tatanan yang apik dan menyejukkan. Banyak lukisan yang terpampang berdampingan dengan penanda produk-produk tertentu dari periode lama yang ada di Indonesia. Saat saya datang ternyata Ahmad Dhani sudah berada disitu. Dengan seluruh personel The Rock Indonesia yang dijamu makanan kecil oleh sang tuan rumah Faiz. M. ”Akhirnya kita bisa bertemu juga ya?” kata Faiz. M sambil memeluk saya. Selama ini saya dan Faiz. M memang hanya saling bertukar sms setelah pertemuan perdana kami di Surabaya saat acara A Mild Live Soundrenaline di Surabaya tahun 2006. Di pojok kiri di teras rumahnya terparkir sebuah motor tua BMW berwarna hitam, ada plat nomor dan logo Nazi di motor tersebut. Entah menyimpan misteri apa dengan motor Nazi tersebut.

Belum lagi beberapa foto dan kover album serta poster film yang dibingkai dari musisi dan artis terkenal luar negeri yang semuanya bertanda tangan asli. Terlihat tanda tangan asli U2, Led Zeppelin (dari reuni tahun 2007), serta tanda tangan asli Al Pacino dan Keanu Reeves di poster film Devils Advocate dan Francis Ford Coppola di poster film Godfather. Kabarnya rumah 6 lantai dari Faiz. M ini banyak menyimpan ragam barang bersejarah yang tak ternilai. Beberapa buah majalah musik kuno dari tahun setelah Indonesia merdeka banyak di keluarkan oleh Faiz. M dan diperlihatkan pada kami. Termasuk poster-poster era majalah Aktuil yang masih disimpan dengan rapi. ”Saya lagi mencari mesin scan yang lebar untuk menyimpan naskah-naskah kuno saya dari jaman Pangeran Diponegoro yang mulai menguning,” ujarnya. Buku Gigi yang saya tulis dan sebuah album baru Gigi tampak tergeletak di grand piano tua yang dijadikan meja oleh sang pemilik rumah. Sekilas saya melihat tulisan tangan di buku tersebut. ”Untuk sahabat kami, Faiz. M” bertanda tangan Armand, Budjana, Hendy, dan Thomas. ”Tadi sore anak-anak Gigi datang kemari memberikan album dan buku Gigi,” ujar Faiz. M.

Ahmad Dhani memanggil orang yang sangat dihormatinya tersebut dengan sebutan Habib. Posisi Faiz. M di hati Dhani sangat spesial, perhatikan saja di setiap Thanks to album yang melibatkan Dhani. Setelah menulis ucapan Thanks to Allah SWT. Muhammad SAW. Dan Syeh Abdul Qodir Jaelani nama Faiz. M berada di urutan berikutnya. ”Bang Faiz. M itu masih ada keturunan dengan Syeh Abdul Qodir Jaelani,” katanya dalam interview yang pernah dimuat di Rolling Stone tahun lalu. Dhani mengaku mengenal Faiz. M saat menjelang album Bintang Lima milik Dewa 19 yang mengenalkan sosok Once di musik Indonesia menggantikan posisi Ari Lasso. Album yang sepanjangs ejarah label Aquarius Musikindo menjadi album paling laris, terjual hampir 2 juta keping.

Sekedar info, nama band Romeo milik Bebi dan Bimo berubah menjadi Bonus juga atas saran Faiz. M. Pula logo The Titans yang di album pertama ada tombak di huruf ”T” di album kedunya tombak tersebut dihilangkan. ”Itu membawa tanda tidak baik untuk band tersebut jika masih memakai tombak sebagai simbol di huruf T,” katanya saat itu.

Jam di dinding di rumah Faiz M yang dipenuhi ragam barang-barang artistik bercita-rasa seni tinggi itu telah menunjukkan pukul 3 pagi. Tapi semua yang hadir di rungan tersebut seperti tersihir oleh semua opini dan fakta serta bukti yang digelontorkan oleh sang tuan rumah. Pula dengan sajian makanan yang sangat lezat dati tuan rumah. Pagi dini hari itu kami dijamu bakso, sup kacang, dan rawon yang entah kenapa memang sangat lezat. “Kami menyebut bakso dirumah bag Faiz ini bakso Ya Allah. Karen saking enaknya kami selalu berucap “ya Allah” setiap habis makan. Enak sekali bakso ini.” Ujar Dedi, teman saya mantan jurnalis di majalah Hai yang saat ini menjadi vokalis di Andra & The Backbone.

Dhani yang beberapa kali mengeluarkan statement yang berkaitan dengan musik Indonesia ditengah acara makan acapkali dibantah oleh Faiz. M dengan akurasi data dan logika yang meruntuhkan premis Dhani. Jika sudah mulai terlihat ngotot dengan jawaban dan keras kepalanya, Faiz. M akan berteriak nyaring. ”Hai, diam arogan. Kamu nggak bisa berkata seperti itu!” Dan Dhani pun sepertinya menerima penjelasan yang disampaikan oleh Faiz. M. Termasuk beberapa kali sindiran dan ledekan soal perempuan yang cuma dijawab mesem-mesem saja oleh Dhani. Rupanya sang habib tahu betul akan ritual yang disukai Dhani.

Topik yang hangat saat kami berkumpul adalah tentang pengunaan sequencer di karya-karya Dhani, soal Yovie Widianto (yang mengaku bangga tidak memainkan musik melayu dan tidak terinspirasi oleh The Beatles, Queen, U2, Linkin Park, dan Codlplay), dan Rizaldi Siagian (berkaitan dnegan pendapatnya soal plagiarisme dalam musik yang dimuat di Rolling Stone) yang dianggapnya terlalu sok tahu dengan kondisi musik Indonesia. ”Gua berani mengakui kepintaran Rizaldi Siagian kalau dia bisa membedakan mana musik Eric Marienthal, David Sanborn dan musik-musik yang gua dengerin. Kalau dia tidak bisa membedakan mana Metallica mana Megadeth ya nggak usah adu ilmu dengan gua.” Kali ini lagi-lagi Faiz. M menyebut Dhani arogan. ”Nggak bisa begitulah Dhan, dia itu pakar etnomusikolog. Bukan pakar musik pop. Makanya aneh kalau kamu ajak dia soal musik pop atau industri.”

Namun Dhani seperti mencari tema lain dengan menyebut persolan yang pernah dikatakan oleh Yovie Widianto. ”Itu aneh juga apa yang dibilang Yovie, gila kali ya dia? Musisi di seluruh dunia terinspirasi oleh The Beatles. Eh dia bilang nggak terpengaruh The Beatles. Dia juga bangga kemarin di AMI Awards 2009 pas terima Best of The Best Album Terbaik mengaku bangga dirinya bukan membawakan musik Melayu. Lha semua lagu-lagunya hanya cocok dinyanyikan oleh anak perempuan kok. Nggak pantas dibawakan laki-laki!” Namun kembali Faiz. M memberi wacana pada Dhani bahwa bisa jadi latar belakang Yovie Widianto dari lembaga kursus musik yang membuatnya punya sikap dan opini seperti itu. Menurut Faiz. M apa yang diucapkan Yovie bisa saja karena disiplin ilmunya tidak menyentuh wilayah pop melayu.
Sejak awal tahun 2009 saya ingin kembali melakukan interview dengan Dhani berkaitan dengan bisnis barunya. Bukan bisnis The Rock Cafe yang sudah membuka cabang di Jakarta dan Bandung, namun bisnis memproduksi album rekaman yang dilakukannya bersama pemilik Nagaswara, Rahayu Kertawiguna. ”Gua lagi konsentrasi membuat label baru bernama Suara Dewa Naga. Artis pertama yang gua rilis ya Mahadewi dengan single ’Sumpah I Love You’!” Mahadewi adalah reinkarnasi dari trio Dewi Dewi yang sepeninggal salah satu vokalisnya berganti nama menjadi Mahadewi dengan personel Purie dan Tata.

Namun untuk bertemu oleh orang yang mengaku memiliki bakat sebagai produser, pencipta lagu, arrangger, pengusaha rekaman, pengusaha cafe, fotografer, pembuat kover, pembuat video klip, pemain band swing, rock, dan pop ini sungguh snagat susah. Bakat yang cuma dia seorang di dunia ini yang memilikinya kata Dhani. Nomor handphone yang dimilikinya susah sekali dihubungi. Jika tidak aktif ya tidak diangkat. ”Gua nggak kemana-mana kok, kalau mau interview ya datang saja ke rumah.” kata Dhani saat akhirnya secara tidak sengaja saya bertemu dengannya di belakang panggung acara Marlboro Rock Your Style di Malang. Beberapa jam sebelum kami akhirnya bertemu kembali di rumah Faiz. M.

”Sekarang gua lagi di rumah terus. Bikin kelar banyak proyek album. Kalau mau menilai karya gua sekarang jangan dinilai dari kualitasnya. Gua ini posisi sekarang seperti ibu Acin (Musica Studio’s), pak Jan (Sony Music), atau Pak Ook (Aquarius Musikindo). Sebagai pedagang. Jika dagangan gua laku keras gua bangga. Gua sukses sebagai pedagang. Jika tolok ukur adalah penjualan yang laku keras, RBT banyak yang aktifasi, maka gua senang karena sebagai pengusaha rekaman gua sukses menjual musik gua. Gua ini sekarang kan pedagang. Gua akan memberikan musik yang dinikmati orang sesuai pasar. Sekarang pasar memberi respon bagus untuk RBT. Fisik sudah mati. Kalau yang aktifasi RBT itu kelas C dan D ya gua akan membuat musik kelas seperti C dan D. Kalau dilihat siapa sih yang mau aktifasi RBT? Itu adalah maaf orang-orang yang berprofesi seperti pembantu atau buruh. Nah, jika gua bikin musik yang keren atau berkualiats kayak dulu Dewa 19 muncul ya nggak akan laku. Makanya gua bikin musik yang laku, yang sesuai dengan pangsa RBT. Itu yang orang nggak mengerti kalau katanya selera musik gua itu sudah turun. Gua tadi ngobrol banyak dengan Dewa Budjana soal ini. Bahwa posisi seperti saat ini, ketika RBT menjadi sumber mata penjulaan utama bisnis rekaman di Indonesia sama sekali diluar bayangan kami dulu sebagai musisi!”

Apa yang diucapkan Dhani adalah sebuah pembelaan dan fakta logis yang mencerminkan kondisi musik Indonesia yang dikuasai oleh musik pop Melayu yang mendayu. Daripada melawan arus dengan membuat sebuah musik berkualitas maka Dhani memutuskan untuk mengikuti arus dengan ikut trend pada industri. Saat ini Dhani bersama label Suara Dewa Naga baru saja merilis album The Virgins dan kompilasi 9 band baru. ”Semuanya gua sign dibawah Republik Cinta dan rilis lewat label Suara Dewa Naga.” ujarnya. Republik Cinta milik Dhani telah menjadi bentuk usaha baru yang membawahi divisi Artist Management, Record Company, dan Artist Agent. Nama Andra & The Backbone dan Once adalah dua orang terdekat Dhani yang tak terikat dalam manajemen Republik Cinta miliknya. ”Dari awal Andra memang tidak gabung dengan gua, dulu mereka nebeng saja di tempat manajemen kami. Ya sekarang sendiri. Once juga sendiri dengan manajemennya.” Kata Dhani.

Dengan berpisahnya manajemen Andra & the Backbone dan Once dari Republik Cinta kabarnya sering terjadi jadwal bentrok jika Dewa 19 akan main. Karena Once dan Andra terkadang sudah memiliki jadwal sendiri. Seperti saat di Malang seharunsya yang tampil adalah Dewa19, namun berhubung Once sebagai solo artis sudah telanjur teken kontrak main bersama KJP (kadri dan Jimmo) dan Kla Project di Rolling Stone Live Venue, maka Dewa19 urung tampil. The Rock yang menjadi penyelamat.

”Kalau diperhatikan musik-musik saat ini yang merajai acara seperti Inbox (SCTV) dan Dahsyat (RCTI) dan program TV lain itu karena masing-masing TV diuntungkan juga lewat aktifasi RBT band atau artis yang bekerjasama dengan band yang main di program tersebut. Jangan heran jika sekarang untuk mencari band atau artis yang berada di posisi chart pertama itu bisa berubah-ubah tiap TV atau program. Karena saat ini ada kenyataan peringkat chart itu ditentukan dengan siapa artis tersebut bekerjasama dangan sebuah provider.” Hukum Supply & Demand adalah yang sedang dikerjakan oleh Dhani saat ini. Jika melihat wilayah seni rupa, seniman Shepard Fairey memakai hal tersebut untuk menandai karya-karya grafisnya dengan label Obey dalam sebuah buku berjudul Supply & Demand.

___________

Hal yang tak bisa dilepaskan dari sosok Ahmad Dhani saat ini adalah akan hobi yang berkaitan dengan sequencer sebagai pondasi musiknya. ”Ini musik industri, dan sequencer itu dibuat untuk indusri. Apanya yang salah? Tadi ada wartawan yang bertanya kenapa musik gua sekarang dibilang nggak jujur. Lho musik yang jujur itu seperti apa? Ada band paling jujur di Indonesia. Namanya Radja. Kenapa? Karena dia punya lagu berjudul ”Jujur”.

Masak memakai salah satu perangkat hasil inovasi industri untuk musik industri dibilang tidak jujur? Gua memakai sequencer karena nggak ada orang Indonesia yang bisa gua bayar untuk memainkan squencer. Kalau ada ya dia akan gua tampilkan di band-band gua untuk memainkan sequencer. Karena nggak ada yang mampu ya gua pake komputer. Coba perhatikan band seperti Linkin Park dan Nine Inch Nails yang memakai sequencer dalam musik-musik mereka. Apakah mereka tidak jujur dengan musiknya? Mereka memakai sequencer karena ada orang yang mampu memainkannya. Kalau yang ngomong tadi sekelas Jockie Suryo Prayogo atau Indra Lesmana gua akan terima. Lha yang bertanya tadi cuma wartawan?”

Pendapat Dhani ini didukung oleh Faiz. M yang saat itu melihat bahwa musik Industri tak ada salahnya dengan memanfaatkan piranti industri itu secara maksimal. Tapi protes pengunaan sequencer tersebut tidak hanya berasal dari wartawan. Mulai banyak yang menilai karya Dhani cuma berisi potongan sampling dan sequencer yang dibawakan secara live lewat piranti komputer. Once, vokalis Dewa19 adalah salah satu teman dekat Dhani yang mulai gerah dengan urusan sequencer. Baru-baru ini Once mengajukan usul supaya album baru Dewa19 terbaru bebas dari sequencer. Drum nggak usah di replace. Semua murni tanpa rekayasa teknologi.

”Gua cuma jawab singkat ke Once, kalau di Dewa19 yang musiknya pake sequencer. Kalau nggak mau pake sequencer ya gabung saja ke Andra & The Backbone!” Saat itu Andra yang duduk di sebelah Dhani jarang sekali mengeluarkan pendapat untuk membantah atau mengiyakan percakapan kami. Bisa jadi Andra sedang ngantuk berat atau sudah hafal luar dalam dengan segala ucapan Dhani. Sobat paling akrab yang dikenalnya sejak jaman SMP di Surabaya.

Kecintaan Dhani pada sequencer ternyata saat dia SMA di Surabaya. “Apa Ndra band favorit yang memakai squencer saat kita SMA?” kata Dhani. Andra yang terkantuk-kantuk cuma menjawab, “Kita? Apa ya? Lupa Dhan!” Dhani bilang Uzeb adalah band pertama yang membuatnya suka dengan istrumen Sequencer. Hobinya berlanjut dengan menyimpan ratusan sampling drum yang seperti diketahui banyak muncul dalam karya-karya ciptaanya kemudian.

Namun pengakuan mengagetkan muncul dari Dhani bahwa dirinya memutuskan total memanfaatkan musiknya dengan squencer adalah saat melihat Koil. ”Jujur saja, gua terinspirasi memakai squencer bukan dari band-band keren seperti Linkin Park atau Nine Inch Nails yang memakai sequencer. Tapi dari Koil gua terpengaruh menggunakan piranti itu. Gua lihat keren banget Koil tampil dengan musik sequencer di album dan saat live.”

Dhani mengakui bahwa hal-hal yang berkaitan dengan musik dirinya kerap telat. Termasuk pengunaan sequencer. ”Gua dari dulu memang cinta mati sama Queen. Makanya gua kenal The Beatles juga telat. Gua kenal The Beatles itu dari Bebi (Romeo). Sejak gua kenal Bebi gua kenal The Beatles. Norak ya? Tapi gua jujur kemudian cinta mati dengan The Beatles karena memang mereka legenda yang patut ditiru. Queen saja ternyata ngambil ide beberapa lagu dari The Beatles. Gua sangat mengagumi Queen. Jika band yang gua kagumi ternyata mengagumi The Beatles, kebayang seberapa ngefans gua sama The Beatles. Makanya gila kalau gua bilang Yovie Widianto tidak terpengaruh The Beatles!

Selepas merilis album The Best I Yet To Come dengan membawa nama Muhammad Dhani & The Swinger lewat single ”Madu Tiga” yang diambil dari lagu lama Melayu milik P. Ramlee dari Malaysia dengan video klip yang cukup menggelitik. Dhani mengakatakan bahwa proyek Muhammad Dhani & The Swinger ini sudah cukup lama dirampungkannya. Berisi 10 lagu yang semuanya berasal dari lagu lama Dewa19, Queen, Michael Frank, Quincy Jones, dan Cole Porter. ”Gua sangat menyukai Frank Sinatra. Gua makanya ingin sekali bikin album swing.” Direkam semuanya di studio 301 di Sydney Australia, sementara vokal dan gitar diisi di studio Rumahku Studio di kawasan Pondok Indah milik Dhani. Tidak tanggung-tanggung sekitar 20 orang bule pemain flute, clarinet, alto dan tenor saxophone, trumpet, trombone, piano, bas, dan percussion dibawah pimpinan music arranger, conductor, band leader bernama Tim Gram dari Australia. Sebuah album yang menampilkan tafsir lain dengan pendekatan swing lagu “Arjuna”, “Separuh Nafas”, “Aku Bukan Siapa-Siapa”, “Kasidah Cinta” dan lagu Dhani yang dipopulerkan Ari Lasso, “Rahasia Perempuan”. Ada kredit nama Dewa Budjana di lagu “Arjuna” yang mengisi gitar dan pemain bas Jeffrey Tahalele.

Sosok pria yang memiliki status duda dari perkawinan pertama dengan Maia Estianty saat ini juga disibukkan dengan promo lagu ketiga anaknya, Al Ghazali, El Jalaludin Rumi, dan Abdul Qodir Jaelani yang dikenal dengan nama Al El Dul. Sebuah nama menjadi penanda untuk ketiga anak tersebut: Lucky Laki. Lagu yang dimaksud adalah ”Superman.” Jika merujuk pada nasib mereka, Al El Dul memang laki-laki yang sangat beruntung. Memiliki ayah yang menguasai industri musik Indonesia lengkap dengan ragam selera musik yang dimilikinya. Juga memiliki ibu yang namanya mulai berkibar di industri musik Indonesia. ”Gua sangat bangga dengan sisi musikal anak-anak gua, tapi mereka itu ternyata sangat menyukai musik metal kekinian seperti Avenged Sevenfold. Gua lagi mau beli lisensi memakai lagu Avenged Sevenfold untuk dinyanyikan Al El dan Dul.”

Dhani terus berkarya dan berevolusi. Entah dengan musik atau imej yamng dipakainya. Semuanya itu menjadi paket propaganda yang membuat publik sadar bahwa dirinya ada. Perkara positif dan negatif yang hinggap dalam pribadinya bisa disulap menjadi hal yang menguntungkannya. Walau hal tersebut bisa terjadi secara langsung atau tidak. Dhani faham bentul bagaimana memanfaatkan media. ”Mas Dhani ini harus sakit dulu baru bisa istirahat total!” kata sang asisten, Iwan Nduth suatu ketika tentang polah dan tingkah bos besarnya itu yang selalu dinamis dan aktif tiap hari dengan memiliki ide untuk membuat sesuatu yang bernilai tinggi secara materi.

____________

Jam di rumah Faiz. M telah menginjak pukul 3.30 pagi. Adzan subuh terdengar dari luar. Rasanya obrolan bisa saja berakhir sampai matahari muncul. Namun beberapa mata sudah terlihat amat sangat mengantuk. Faiz. M juga mengingatkan pada Dhani harus segera pulang ke Surabaya untuk kejar pesawat pagi ke Jakarta dari bandara Surabaya. Bisa bertemu dan berbicara langsung dengan Dhani dihadapan Habib yang dihormatinya bernama Faiz. M menjadi sebuah pengalaman batin yang tak terlupakan. Banyak hal yang bisa menjadi pemahaman baru yang selama ini sudah telanjur diyakini. Dekonstruksi dengan wacana dan logika berpikir yang rasanya menjadi alternatif jawaban dari banyak persoalan. Tidak heran jika seorang Ahmad Dhani bisa begitu percaya pada sosok Faiz. M. Namun pertanyaan saya adalah? Siapa sebenarnya Faiz. M ini?